Bayu Skak Mulai Syuting 'Sukses Jaya', Film Drama Komedi Tentang Perantau Jakarta
Bayu Skak baru saja merampungkan FOUFO di bioskop bulan Juli lalu, dan sebelum penonton selesai membicarakannya, ia sudah kembali ke balik kamera untuk proyek berikutnya. Per 4 September 2026, SKAK Studios bersama SinemArt resmi memulai syuting 'Sukses Jaya', sebuah film drama komedi yang lagi-lagi ia tulis, sutradarai, dan produseri sendiri. Tapi kali ini, sepertinya Bayu Skak tidak sedang bermain aman.
Dari Setan Jawa ke Kuli Jakarta
Kalau 'Sekawan Limo' meraih 2,5 juta penonton dengan formula horor komedi berbumbu budaya Jawa, dan FOUFO bereksplorasi ke wilayah sci-fi komedi bertema Madura, maka 'Sukses Jaya' bergerak ke arah yang justru terasa lebih rendah hati. Ceritanya bukan tentang makhluk gaib atau teknologi masa depan. Ini tentang Iman, seorang kuli bangunan asal Malang yang sudah lima tahun merantau di Jakarta dan belum juga menemukan kesuksesannya.
Bersama dua sahabatnya, Sutris dan Kojek, Iman menerima tawaran proyek pembangunan patung dari Boim, seorang broker licik. Proyek dengan anggaran minim dan deadline yang hampir mustahil itu justru menjadi awal dari serangkaian masalah: Iman dijadikan kambing hitam, ambisinya menggerogoti kepercayaan orang-orang terdekatnya, dan perlahan ia menyadari bahwa cara pandangnya tentang "sukses" perlu dipertanyakan ulang.
Sederhana? Iya. Tapi justru di situlah tantangannya.
Ketika Bayu Skak Bicara Serius Lewat Tawa
Bayu Skak dalam keterangannya menyebut sesuatu yang menarik perhatian:
"Saya ingin menggambarkan kehidupan pekerja perantauan yang datang dengan nilai-nilai baik, tetapi terkadang kebaikan itu dimanfaatkan orang lain. Menjadi orang baik tetap penting, tetapi kita juga perlu cerdas dalam menghadapi kehidupan."
Ini bukan kalimat seorang sutradara yang sedang membuat film hiburan murni. Ada sesuatu yang lebih personal di sini, semacam rasa ingin membela orang-orang yang terlalu polos untuk bertahan di kota besar, tapi juga tidak mau terkesan mengajari. Formula yang pelik untuk dijaga keseimbangannya, dan itu justru yang membuat 'Sukses Jaya' layak ditunggu dengan antisipasi yang berbeda dari film-film Bayu sebelumnya.
David S. Suwarto selaku Executive Producer dari SinemArt juga mengakui daya tarik itu:
"Ceritanya sederhana, tetapi ketika dibawa dengan gaya khas komedi Bayu, ada banyak hal yang bisa menjadi lucu, sekaligus ada drama dan persoalan yang sangat manusiawi."
Dan SinemArt bukan pemain sembarangan dalam memilih proyek. Keputusan mereka untuk kembali berkolaborasi dengan SKAK Studios setelah FOUFO menunjukkan bahwa kepercayaan itu sudah terbangun di atas rekam jejak yang solid.
Jajaran Pemain yang Tidak Bisa Disepelekan
Untuk film yang mengklaim dirinya tentang "orang kecil", jajaran pemainnya justru tidak kecil-kecil amat. Di luar Bayu Skak yang memerankan Iman sekaligus merangkap sutradara dan produser, nama-nama yang ikut hadir cukup menunjukkan seberapa serius proyek ini digarap:
- Nopek Novian sebagai Sutris, satu dari dua sahabat Iman. Nopek, yang selama ini lebih dikenal publik lewat konten humor dan kolaborasinya dengan Denny Caknan, kini mendapat ruang berakting yang lebih formal.
- Yusril Fahriza sebagai Kojek.
- Elvira Davinamira sebagai Windy, perempuan yang dicintai Iman dan perlahan kehilangan kepercayaannya pada Iman.
- Denny Caknan dan Bella Bonita, pasangan penyanyi dangdut yang kembali muncul di layar lebar.
- Joshua Suherman, Brandon Salim, Arief Didu, Cak Kartolo, dan Riyuka Bunga melengkapi ensemble yang terbilang beragam.
- Firza Valaza, yang selain berperan juga terlibat sebagai comedy consultant.
Menariknya, ada pola yang familiar di sini: SKAK Studios selalu mempertemukan nama-nama dari dunia hiburan Jawa Timur yang jarang mendapat panggung film nasional. Nopek Novian adalah salah satu contoh paling nyata, seorang kreator yang popularitasnya di konten digital sangat besar, tapi pengalaman layar lebarnya masih terbatas. Bayu Skak tampaknya memang sengaja membangun ekosistem ini.
Konsistensi yang Jadi Kartu Truf SKAK Studios
Perlu diingat konteksnya: SKAK Studios bukan studio yang baru kemarin sore. Sejak 'Yowis Ben' menjadi film terlaris periode 2018-2021, rekam jejak Bayu Skak di dunia film lokal yang menggunakan bahasa daerah dan talenta daerah sudah terbukti bukan sekadar eksperimen sekali jalan. 'Sekawan Limo' menutup 2024 dengan 2,5 juta penonton dan masuk jajaran film Indonesia terlaris tahun itu. Lokadrama 'Lara Ati' di Vidio.com bahkan menorehkan 50 juta penonton, rekor sepanjang sejarah platform tersebut.
Dengan peta kemenangan seperti itu, 'Sukses Jaya' seharusnya tidak punya alasan untuk gagal secara komersial. Tapi justru ekspektasi itulah yang menjadi tekanan tersendiri: akankah film yang secara tematis lebih "membumi" ini bisa mengimbangi pencapaian-pencapaian sebelumnya? Atau justru kesederhanaannya akan menjadi kekuatan yang diam-diam mengejutkan semua orang?
Ricky R Setiawan, produser SKAK Studios, menegaskan posisi artistik film ini:
"Komedi dan kedaerahan merupakan bagian dari identitas kreatif SKAK Studios. Kami ingin tetap menghadirkan tontonan yang menghibur, tetapi juga membawa refleksi bahwa menjadi orang baik perlu dibarengi kecerdasan dalam memahami dan menghadapi kehidupan."
Film berdurasi sekitar 110 menit ini mengambil latar Jakarta tahun 2026 dan menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Jawa, sebuah pilihan yang sudah menjadi tanda tangan khas SKAK Studios sejak hari pertama.
'Sukses Jaya' tidak sedang mencoba menjadi film besar karena anggarannya besar. Ia mencoba jadi film besar karena ceritanya terasa dekat dengan jutaan orang yang pernah merantau dengan satu koper mimpi dan pulang dengan lebih banyak pertanyaan dari jawaban. Apakah Bayu Skak bisa mengeksekusi keseimbangan antara tawa dan gigitan moralnya? Kita baru bisa tahu saat filmnya tayang. Tapi dengan riwayat yang ia punya, tidak ada alasan untuk meragukan bahwa perjalanan 'Sukses Jaya' akan layak diikuti sejak sekarang.
Pendiri Sinema Talk. Nulis dan ngomongin film supaya kamu merasa "oh iya juga ya". Gak pernah netral, memang disengaja.



