Opini Snape Baru 'Harry Potter' HBO: Bukan Soal Warna Kulit
Beberapa hari lalu, HBO merilis trailer penuh pertama untuk serial 'Harry Potter and the Philosopher's Stone', dan untuk pertama kalinya Severus Snape versi Paapa Essiedu buka suara. Satu kalimat, dilontarkan dingin ke Harry di kelas ramuan: "Let's hope you show some talent on the Quidditch pitch, Potter." Dan dalam hitungan jam, internet terbelah. Sebagian penggemar setia dan pembaca buku merasa kecewa. Gua paham perasaan itu. Tapi gua mau jujur soal satu hal: sebagian besar kekecewaan itu sedang diarahkan ke sasaran yang salah.
Trailer yang sebenarnya justru membaik
Sebelum masuk ke Snape, adil kalau gua bilang trailer ini secara umum bagus. Dia menghadirkan Sorting Ceremony, Quidditch, Mirror of Erised, si troll, sampai Hedwig, dengan kualitas produksi yang sinematik, bukan kelihatan seperti sinetron. Palet warna kusam yang dikritik habis-habisan di teaser pertama sudah hilang. Bahkan teaser perdananya dulu jadi teaser paling banyak ditonton dalam sejarah HBO Max. Jadi soal minat, gak ada masalah. Yang jadi masalah cuma satu wajah: Snape.

Kekecewaan yang sah, dan gua hormati
Mari pisahkan dulu mana kekecewaan yang masuk akal. Ada beberapa:
- Bayangan Alan Rickman. Ini yang paling nyata. Rickman gak sekadar memerankan Snape, dia mendefinisikannya. Suara beratnya, jeda-jeda menyebalkannya, semuanya sudah tercetak permanen di kepala kita. Siapa pun aktornya, warna kulitnya apa pun, akan mustahil lepas dari bayangan itu. Ini kritik yang gak ada hubungannya dengan ras.
- Kesetiaan pada deskripsi buku. Di novel, Snape memang digambarkan berkulit pucat dan berambut berminyak. Buat pembaca yang membangun gambaran itu selama bertahun-tahun, perubahan apa pun terasa mengganggu. Itu wajar.
- Kelelahan pada remake. Banyak yang bertanya sederhana: kenapa cerita ini diceritakan ulang lagi? Sebagian menjawab sendiri dengan satu kata, uang. Ini keresahan yang sah soal industri, bukan soal aktornya.
Kalau kekecewaan kalian berhenti di tiga titik ini, gua gak akan berdebat. Itu diskusi yang sehat soal adaptasi.
Tapi ada garis yang sudah dilewati
Masalahnya, sebagian besar reaksi gak berhenti di situ. Paapa Essiedu, aktor Inggris keturunan Ghana, menerima gelombang pelecehan rasial, bahkan ancaman pembunuhan, hanya karena dia diperankan sebagai penyihir. Renungkan itu sebentar. Seseorang diancam nyawanya karena memerankan tokoh di 'Harry Potter'. Essiedu sendiri menanggapinya dengan tenang, mengatakan gak seharusnya ada orang mengalami ini hanya karena menjalankan pekerjaannya. Dia bahkan memilih gak melaporkan ancaman itu.
Ketika kritik soal "kesetiaan pada buku" berubah jadi ancaman pembunuhan, itu bukan lagi soal kesetiaan. Itu soal kebencian.
Aktor Jason Isaacs, si Lucius Malfoy di film aslinya, gak menahan diri soal ini. Dia menyebut Essiedu salah satu aktor terbaik yang pernah dia lihat, lalu menamai apa yang terjadi dengan jujur: yang mereka lakukan itu rasis. Dan gua setuju. Ada perbedaan besar antara "gua kangen Rickman" dan "gua benci wajah ini ada di sini". Yang pertama nostalgia, yang kedua bigotri.
Bayangan yang lebih besar dari Snape
Dan sebenarnya, di atas semua ini, ada bayangan yang lebih besar lagi: J.K. Rowling, yang duduk sebagai produser eksekutif. Retorika anti-transnya bertahun-tahun terakhir membuat sebagian besar pemain film aslinya angkat bicara menentangnya. Jadi reboot ini lahir di tengah fandom yang sedang berperang dengan penciptanya sendiri. Kekecewaan pada Snape, buat gua, sebagian adalah pelampiasan dari kegelisahan yang jauh lebih besar dan lebih rumit dari sekadar casting.

Jadi begini kesimpulan gua. Kekecewaan kalian pada Snape baru itu nyata, dan sebagiannya sah. Tapi coba jujur ke diri sendiri: yang bikin kalian gelisah itu Paapa Essiedu, atau kenangan kalian sendiri soal Alan Rickman dan masa kecil yang gak akan pernah kembali? Karena kalau kalian tonton lagi trailernya tanpa amarah, Snape versi Essiedu justru salah satu momen paling nempel di sana, dingin dan meyakinkan. Bahkan seorang penulis Forbes yang awalnya skeptis mengaku trailer ini bikin dia jadi percaya.
Kita gak sedang berduka atas Snape. Kita sedang berduka atas diri kita yang dulu, yang pertama kali membuka buku itu dan jatuh cinta. Dan itu bukan salah Paapa Essiedu. Ironisnya, dia mungkin justru satu-satunya alasan bagus untuk tetap menonton.
Pendiri Sinema Talk. Nulis dan ngomongin film supaya kamu merasa "oh iya juga ya". Gak pernah netral, memang disengaja.



