HOROR MENYELAMATKAN BIOSKOP INDONESIA. SEKARANG HOROR JUGA YANG MENYANDERANYA

Mari mulai dari angka, karena angka susah dibantah. Sampai April 2026, sembilan film nasional sudah menembus satu juta penonton. Media Indonesia mencatat Danur: The Last Chapter memimpin dengan sekitar 3,59 juta penonton. Di belakangnya, Ghost in the Cell garapan Joko Anwar mengumpulkan 3.376.865 penonton. Alas Roban lebih dari 2,43 juta. Tumbal Proyek sekitar 1,65 juta. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa lebih dari 1,53 juta.

Lima film teratas. Lima-limanya horor.

Gua mau bilang ini dulu supaya tidak salah paham: gua senang. Bioskop Indonesia hidup, dan yang menghidupkannya adalah film buatan kita sendiri, bukan impor. Itu prestasi yang lima belas tahun lalu terdengar mustahil.

Tapi kesuksesan punya cara aneh untuk mempersempit pilihan

Begini logika yang berjalan di ruang rapat produser. Horor terbukti laku. Horor relatif murah. Horor tidak butuh bintang mahal, karena yang jual adalah premisnya. Maka pertanyaan berikutnya bukan "cerita apa yang ingin kita ceritakan", melainkan "santet apa yang belum dipakai".

Itu bukan tuduhan. Itu matematika. Dan matematika selalu menang melawan idealisme kalau tidak ada yang melawannya.

Akibatnya kelihatan di jadwal tayang. Bulan ini saja ada Suanggi: Ilmu Kutukan, dan Autopsy: Dead Body Can Talk yang dijual sebagai psychological thriller tapi dipasarkan dengan bahasa visual horor. Genre lain bukannya tidak ada mereka ada, tapi mereka masuk sebagai tamu, bukan tuan rumah.

Yang membuat gua tidak bisa sepenuhnya pesimis

Ada satu detail yang sering luput. Yang duduk di posisi dua bukan horor sembarangan itu Joko Anwar. Dan itu penting, karena membuktikan sesuatu yang sering dilupakan: horor bukan genre rendahan yang laku karena penonton kita tidak pintar.

Horor Indonesia laku karena ia satu-satunya genre yang selama ini diizinkan bicara soal hal-hal yang tidak boleh dibicarakan langsung. Dosa keluarga. Kemiskinan. Tanah yang direbut. Perempuan yang dihabisi lalu dibungkam. Bungkus setannya membuat semua itu lolos, dan penonton kita paham betul apa yang sebenarnya sedang ditonton.

Media Indonesia sendiri mencatat drama dan komedi mulai menunjukkan taji di jajaran box office. Itu kabar baik. Tapi "mulai menunjukkan taji" dan "punya kursi di meja" adalah dua hal yang berbeda.

Catatan editorial: yang gua khawatirkan bukan horornya

Gua tidak sedang meminta lebih sedikit film horor. Gua meminta lebih banyak film horor yang berani, dan lebih banyak ruang untuk yang bukan horor.

Bahayanya bukan genre. Bahayanya adalah ketika satu formula terbukti aman, dan seluruh industri berhenti bertanya "kenapa ini bekerja" lalu langsung ke "gimana kita mengulanginya". Formula yang diulang tanpa dipahami akan aus. Dan ketika ia aus, yang runtuh bukan cuma horor yang runtuh kepercayaan penonton pada film Indonesia secara umum, karena selama bertahun-tahun cuma itu yang ditawarkan.

Vonis

Horor sudah membayar tagihan bioskop Indonesia, dan pantas dihormati untuk itu. Tapi menyelamatkan sesuatu tidak otomatis berarti berhak memilikinya selamanya.

Yang gua harap dari sisa 2026: satu film non-horor yang menembus tiga juta penonton. Bukan karena horor harus kalah, tapi karena industri yang sehat adalah industri yang punya lebih dari satu cara untuk menang. Selama cuma ada satu pintu, semua orang akan berdesakan di pintu yang sama dan yang paling keras suaranya, bukan yang paling bagus filmnya, yang masuk duluan.

Sumber

Angka penonton mengacu pada Media Indonesia ("9 Film Indonesia Tembus 1 Juta Penonton 2026, Horor masih Dominan"), RRI, Medcom, dan Harper's Bazaar Indonesia, dengan data hingga paruh pertama 2026. Angka Ghost in the Cell (3.376.865) dan Danur: The Last Chapter (±3,59 juta) dikutip dari laporan tersebut. Judul film September 2026 mengacu pada Detik dan Katadata. Seluruh penilaian soal arah industri adalah opini redaksi Sinema Talk, bukan pernyataan produser, sutradara, atau lembaga mana pun.