LIMA FILM INDONESIA NON-HOROR YANG BIKIN KALIAN BANGGA JADI PENONTON LOKAL

Kalau ngomongin film Indonesia, banyak orang langsung kebayang horor. Wajar, karena genre itu yang paling laku. Tapi ada satu sisi lain dari sinema kita yang sering kelewat, padahal justru di sanalah nama Indonesia diharumkan di festival kelas dunia. Ini lima film non-horor yang menurut gua wajib kalian tonton, bukan cuma karena bagus, tapi karena mereka bikin gua bangga jadi penonton lokal.

Buat yang mau sinema kelas festival

'Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

'Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak' (2017), Mouly Surya. Ini film yang bikin dunia menoleh ke sinema kita. Marsha Timothy berperan sebagai Marlina, janda di perbukitan Sumba yang memenggal kepala pemimpin perampok lalu berjalan mencari keadilan. Genrenya drama-thriller dengan latar Indonesia Timur yang memukau, dibungkus kritik sosial soal keadilan bagi perempuan. Film ini tampil di Cannes Film Festival 2017 dan memborong belasan penghargaan. Kalau kalian pikir film Indonesia gak bisa terlihat sekelas produksi dunia, tonton ini.


'Yuni' (2021), Kamila Andini.

'Yuni' (2021), Kamila Andini. Kisah seorang remaja perempuan yang menolak menikah muda demi meraih mimpinya sendiri. Kamila Andini membungkus isu sosial yang berat ini dengan visual yang lembut dan jujur. Film ini bahkan memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021, salah satu penghargaan paling bergengsi untuk sinema yang berani secara artistik.

Buat yang mau nangis dan ketawa bareng keluarga

'Ngeri-Ngeri Sedap' (2022), Bene Dion Rajagukguk

'Ngeri-Ngeri Sedap' (2022), Bene Dion Rajagukguk. Ini salah satu film paling hangat yang lahir dari sinema kita. Berlatar tepi Danau Toba, Pak Domu dan Mak Domu berpura-pura mau bercerai supaya ketiga anak mereka yang merantau di Jakarta mau pulang. Filmnya lucu, tapi juga menohok soal jarak antara orang tua dan anak. Saking kuatnya, film ini dipilih jadi wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2023.


laskar pelangi

'Laskar Pelangi' (2008), Riri Riza. Ini klasik modern yang wajib ditonton semua orang Indonesia minimal sekali seumur hidup. Diadaptasi dari novel laris Andrea Hirata, film ini bercerita soal perjuangan pendidikan anak-anak di pelosok Belitung. Waktu rilis, dia jadi salah satu film terlaris, dan pesonanya membawa film ini menang di Hong Kong International Film Festival. Sederhana, tulus, dan bikin kalian percaya lagi pada mimpi.

Buat yang mau relevan sama zaman sekarang

'Budi Pekerti' (2023), Wregas Bhanuteja.

'Budi Pekerti' (2023), Wregas Bhanuteja. Ini film yang terasa seperti cermin era media sosial kita. Bu Prani, seorang guru Bimbingan Konseling, terjebak dalam pusaran cyber-bullying setelah satu momennya viral disalahpahami. Filmnya menyapu bersih banyak penghargaan di Piala Citra, dan lebih dari itu, dia memaksa kita bertanya: seberapa cepat kita menghakimi orang lain hanya dari potongan video? Kalau kalian mau satu film yang paling nyambung sama hidup kalian hari ini, ini jawabannya.

Vonis

Lima film ini bukti bahwa sinema Indonesia jauh lebih luas dari sekadar hantu dan jumpscare. Kita punya thriller kelas Cannes, drama keluarga yang tembus Oscar, klasik yang menghangatkan, sampai cermin sosial yang menampar. Horor mungkin yang paling laku, tapi film-film inilah yang paling sering dibawa mengelilingi dunia. Jadi lain kali ada yang meremehkan film lokal, ajak mereka duduk dan tonton salah satu dari ini. Kadang kebanggaan itu cuma butuh satu kali menonton yang tepat.