'JANGAN BUANG IBU': FILM YANG BIKIN SATU BIOSKOP MENANGIS, DAN KENAPA ITU BUKAN PUJIAN OTOMATIS

Ada laporan dari pemutaran di XXI Plaza Indonesia pada 11 Juni 2026: bioskopnya penuh air mata. Banyak penonton menangis karena merasa terhubung dengan ceritanya. Itu detail yang biasanya langsung dipakai sebagai bukti sebuah film berhasil.

Gua mau menahan dulu kesimpulan itu, dan menjelaskan kenapa.

Terbuka: ini bukan ulasan dari kursi bioskop

Gua belum menonton film ini. Jadi tulisan ini bukan vonis gua atas filmnya, melainkan pembacaan gua atas bagaimana film ini diterima apa yang berulang dipuji, apa yang berulang dikeluhkan, dan apa artinya pola itu. Skor di halaman ini sengaja dikosongkan sampai gua benar-benar duduk dan menontonnya.

Gua pikir itu lebih jujur daripada memberi angka pada sesuatu yang belum gua alami.

Yang hampir semua orang sepakati: Nirina Zubir

Film ini disutradarai Hadrah Daeng Ratu, diadaptasi dari novel "Jangan Buang Ibu, Nak" karya Wahyu Derapriyangga. Ceritanya berpusat pada Ristiana, ibu tunggal yang membesarkan tiga anaknya Tama, Dewi, dan Tria setelah ditinggal suaminya.

Dari IDN Times sampai Popbela, dari Mariviu sampai ulasan pembaca di Suara, satu nama muncul terus: Nirina Zubir sebagai Ristiana. Kekuatan utama film ini, menurut hampir semua yang menuliskannya, ada di jajaran pemainnya, dan terutama padanya.

Pujian lain yang berulang: kemampuan Hadrah menceritakan sesuatu yang sederhana tanpa memaksakan plot twist atau konflik berlebihan. Di industri yang sedang kecanduan kejutan, memilih untuk tidak mengejutkan adalah keputusan yang butuh keberanian tersendiri.

Yang membuat gua mengangkat alis: keluhan yang berulang

Di tengah rating yang berkisar 7 sampai 8 dari 10, ada dua keluhan yang muncul lebih dari sekali: dialognya terasa dipaksakan, dan alur non-liniernya membingungkan.

Dua keluhan itu menarik justru karena bertabrakan dengan pujiannya. Sebuah film dipuji karena sederhana dan tidak memaksa, tapi dikeluhkan karena dialognya memaksa dan strukturnya berbelit. Itu bukan kontradiksi penonton yang bingung itu tanda film yang kuat di satu bagian dan goyah di bagian lain.

Dugaan gua, dan ini murni dugaan: kekuatannya ada di wajah, bukan di kalimat. Ketika kamera diam di Nirina, filmnya bekerja. Ketika filmnya harus menjelaskan lewat dialog atau menata ulang waktu, ia kehilangan pijakan.

Catatan editorial: air mata bukan ukuran mutu

Ini bagian yang paling ingin gua sampaikan. Film bertema orang tua dan penyesalan punya keuntungan tidak adil: hampir semua penonton Indonesia membawa luka itu ke dalam bioskop sebelum filmnya dimulai.

Kalian menangis bukan selalu karena filmnya berhasil. Kadang kalian menangis karena filmnya menyentuh sesuatu yang sudah lama kalian simpan, dan film mana pun dengan tema yang sama akan mendapat reaksi serupa.

Itu bukan berarti filmnya buruk. Itu berarti air mata saja tidak cukup untuk menilainya. Pertanyaan yang lebih berguna: setelah tangisnya reda, apa yang tersisa? Apakah kalian membawa pulang sebuah pemikiran baru soal orang tua kalian, atau cuma perasaan bersalah yang hilang dalam dua hari?

Ulasan di Suara menyebut film ini menggugat stigma panti jompo. Kalau benar begitu, dan filmnya betul-betul mendorong penonton mempertanyakan asumsinya alih-alih sekadar menghukum anak yang menitipkan orang tuanya, maka itu jauh lebih berharga daripada seluruh air mata di ruangan.

Vonis sementara

Berdasarkan pola penerimaannya, ini kemungkinan besar film yang layak ditonton dengan catatan kalian datang untuk aktingnya, bukan untuk kerapian ceritanya.

Gua akan menonton dan memperbarui tulisan ini dengan skor beserta vonis penuh. Sampai saat itu, anggap halaman ini sebagai rangkuman apa kata orang, bukan apa kata gua.

Sumber

Informasi sutradara (Hadrah Daeng Ratu), novel asal ("Jangan Buang Ibu, Nak" karya Wahyu Derapriyangga), premis, dan nama tokoh mengacu pada Letterboxd, IDN Times, Popbela, Mariviu, dan The Rockin Life. Pujian atas akting Nirina Zubir serta keluhan soal dialog dan alur non-linier dirangkum dari ulasan IDN Times, Popbela, Mariviu, dan ulasan pembaca di Yoursay Suara. Laporan suasana pemutaran di XXI Plaza Indonesia pada 11 Juni 2026 berasal dari ulasan pembaca di Yoursay Suara. Rentang rating 7-8/10 adalah rangkuman dari beberapa ulasan tersebut, bukan skor resmi. Redaksi Sinema Talk belum menonton film ini; seluruh penilaian di atas adalah pembacaan atas penerimaan publik, bukan ulasan langsung.